New year, new hope, new ME

Yeeey, it’s fifth of January 2015. A little bit late for New Year celebration. But it’s fine (I guess) better than never hehe 😀

When it’s new year, people tends to make resolution or to do list of achievement they wish to achieve this year.  As in the last year, I also made this kind of list, even I didn’t write it down in this blog (I kept it secret). 😛 Now I see, none of the points in the list were achieved. Shame on me… >_<

This year, once again, I want to make a resolution. I will keep it simple.

1. Finish the THESIS

2. Publish articles (scientific or non-scientific). One as the minimum target.

3.  Be better ME (I know it sounds very general, but I mean it. I need to become a better person. REALLY, BETTER than I am today).

See, simple …right. And if (once again) I failed to achieve those points in the end of this year… I don’t know what to say.

Bismilllahirrohmanirrohim.

Advertisements

Precious time

As per today, I only have 1.5 weeks left.

It’s not just so little time so much to do, but more like so much time but I did nothing. I’ve wasted so much precious time.

I guess someone should slap me in the face or kick me in the butt.

Oh…I’m so busted…aaargggh… >_<

Missing him

Sudah lebih dari satu bulan aku sakit pertussis. Selama sakit aku berusaha meminimalisir kontak dengan Sena. Aku takut menularinya, meskipun aku tau dia sudah mendapatkan vaksinasi pertussis.

Aku jadi kangen sekali dengan Sena. Aku tidak bisa bebas memeluk dan menciumnya (meski kadang-kadang tetap kulakukan). Aku tidak bisa mengajaknya bermain di luar, karena saat kena udara dingin aku langsung jadi sulit bernafas, batuk parah (bahkan muntah). Pun, aku tidak bisa menemaninya bermain di dalam rumah terlalu lama. Aku gampang capek dan dadaku sesak.

Di sore hari menjelang tidur, biasanya aku membacakan buku cerita padanya. Tapi sudah lama aku tidak melakukannya karena batukku selalu menyerang menjelang malam. Jika kupaksakan membaca buku, aku membaca sambil batuk-batuk dan terengah-engah.

Di tengah malam kadang serangan batuk itu datang. Sena dan suamiku jadi terbangun karena batukku yang terlalu keras. Sedih sekali melihat mereka tidak bisa nyenyak tidur.

Maafkan bunda ya nak…doakan bunda cepat sembuh. Bunda kangen Sena. 😦

Kebetulan

Kok bisa dapat kerja disana? Kebetulan aku melihat ada lowongan kerja disana. Yah aku apply aja, eh ternyata dapat. Alhamdulillah.

Kok bisa dapat rumah di sini? Kebetulan aku melihat iklan rumah ini di jual di website. Karena harganya sesuai budget dan berada di daerah yang aku inginkan, yah aku coba tawar, eh ternyata dapat. Alhamdulillah.

Kok bisa dapat sekolah disini? Kebetulan saat daftar dikasih tau bahwa masih ada satu kursi lagi, akhirnya dapat. Alhamdulillah.

Itu beberapa contoh kebetulan yang menyenangkan di kehidupanku.

Tapi kebetulan yang ini kurang menyenangkan, tapi sering banget datang.

Saat aku dan suami sedang dikejar dateline/ meeting penting, kebetulan Sena sakit (yang demam lah, yang batuk lah, yang mimisan lah). >_<

Aku jadi uring-uringan, gampang marah, meledak-ledak. Kerjaan amburadul, anak yang jadi korban, hatiku juga sedih. Kejadian seperti ini yang membuatku enggan sekali kerja meninggalkan rumah. Tapi sayangnya ga banyak yang mengerti. 😦

Play date (Afspreken)

Sejak menjadi murid basisschool, Sena mulai mendapat undangan play date (afspreken) sepulang sekolah. Dalam play date, dua atau tiga anak bermain bersama sepulang sekolah di salah satu rumah anak-anak tersebut selama 2-3 jam. Biasanya orang tua meninggalkan mereka bermain dibawah pengawasan tuan rumah, lalu setelah 2-3 jam mereka akan di jemput.

Awalnya aku enggan membawa Sena untuk play date karena aku khawatir Sena (dan aku) tidak bisa berkomunikasi dengan temannya. Karena aku tidak bisa berbahasa Belanda. Tapi lama-lama aku menyadari bahwa play date adalah hal yang biasa untuk anak-anak seusia Sena dan penting untuk proses adaptasi dan bergaul di sekolah. Maka aku izinkan dia play date di rumah Kyan. Kyan adalah anak keturunan Indonesia-Korea-Belanda. Aku kenal baik dengan ibunya. Jadi aku bisa ikut ke rumah Kyan saat play date Sena yang pertama. Aku ingin melihat bagaimana aktivitas Sena saat play date. Ternyata Sena tidak punya masalah komunikasi dengan Kyan (dan mamanya), dia juga bersikap sopan, tidak kasar saat bermain.

Akhirnya undangan play date berdatangan, dari Roel, Luuk, Meintje, Fabian, dll. Sampai saat ini Sena sudah beberapa kali main ke rumah temannya, tapi hanya satu anak yang main ke rumah Sena. Aku memang masih merasa takut jika tidak bisa mengerti/menjawab pertanyaan teman-teman Sena, jika mereka main ke rumah. Lagipula teman-teman Sena punya mainan lebih banyak darinya. Sena selalu senang saat pulang ke rumah setelah play date. 😀

Sena and Fabian play date
Sena and Fabian play date

Tapi menurutku, lebih baik aku menjadwalkan kegiatan ini agar Sena lebih disiplin waktu. Misalnya play date hanya dilakukan 2x seminggu. Aku melihat kegiatan ini punya sisi positif juga. Sena jadi punya lebih banyak teman, kemampuan berbahasanya meningkat dan dia lebih mandiri (main tanpa di temani orang tua). Dia juga belajar bagaimana bersikap di rumah orang lain. Orang tua teman-teman Sena juga mulai mengenal kami dan tidak segan lagi menyapa kami jika bertemu di sekolah atau di jalan. 🙂

Kinkhoest aka Pertussis aka Whooping cough

Sudah hampir satu bulan ini aku batuk-batuk. Awalnya aku hanya batuk saat cuaca mulai mendingin dan menjelang malam/pagi. Tapi lama-lama aku batuk sepanjang hari. Batuknya kering sekali, tidak ada dahak sama sekali. Mataku sempat berair dan demam sebentar. Menginjak minggu ke 3 setelah aku mulai batuk, batukku semakin parah, hingga muntah berkali-kali. Ritme batuknya seperti serangan tiba-tiba, membuat dadaku sesak dan kesulitan bernapas. Jika batuknya parah, seluruh badanku menegang, wajahku memerah dan panas. Di malam hari aku terbangun berkali-kali karena batuk. Aku mengisolasi diriku di ruang baca dan meminimalisasi kontak dengan Sena agar dia tidak ketularan.

Tadinya aku malas menelfon dokter, karena biasanya mereka cuma menganggap orang batuk itu obatnya adalah tidur. Tapi lama-lama aku tidak tahan. Akhirnya aku menelfon dokter (huisart) untuk periksa. Tapi jadwal terdekat yang kudapat adalah 4 hari kemudian. Karena keadaanku sudah terlihat parah dokter memberi resep tanpa memeriksaku. Aku diberi codeinfosphat 10mg. Aku pernah mengkonsumsi obat beberapa tahun lalu cukup keras dan manjur untuk mengobati batukku saat itu. Tapi setelah seminggu mengkonsumsi obat ini, batukku tak kunjung reda.

Akhirnya aku menelfon dokter lagi dan mendapatkan jadwal keesokan harinya untuk diperiksa. Dokter memeriksa rongga dadaku, Alhamdulillah terdengar bersih, jadi tidak ada infeksi di sana. Diagnosa dokter adalah aku menderita Whopping cough (Pertussis/Kinkhoest). Hanya waktu yang bisa menyembuhkan penyakit ini, yang biasa disebut batuk 100 hari. Jadi aku diminta bersabar menghadapinya dan memberikan codein 20mg untuk meredakan batukku.

Di rumah aku segera mencari tahu tentang penyakit ini. Ternyata ciri-ciri penyakit ini mirip dengan yang kualami. Penyakit ini cukup berbahaya terutama untuk bayi dan anak-anak. Ada vaksin khusus untuk mereka, tetapi kadang anak-anak masih bisa terinfeksi meski sudah di imunisasi. Karena muntah yang terus menerus, penderita anak-anak biasanya harus dirawat. Sedangkan orang dewasa bisa di rawat di rumah. Penyakit ini akan pergi sendiri setelah beberapa minggu atau bulan (sekitar 100 hari).

Seperti yang di katakan dokter, sepertinya aku hanya harus bersabar sampai penyakit ini pergi, sambil menjaga agar Sena dan Putra tidak tertular.

Info tentang penyakit ini:

http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/whooping-cough/basics/definition/con-20023295

The best gift for toddler

My son is getting more and more birthday invitation from his friends. It means I have to prepare a gift for them. I have my own standard of what kind of gift I will buy and how much the cost.

For me, the best gift for toddler are books and educative toys/games. Instead of buying automatic cars with remote control or barbie doll, I prefer to buy story telling books or building blocks (wooden or plastic). It doesn’t have to be the expensive Lego, but the most important thing is the kids use his brain, hands and feet to play with it.

The book brings a close relationship between the kids and their parents when they read it together. It also adds vocabulary and imagination for the kids. In the end of the story, parents can summarize the value of the story, whether it’s bad or good and explain it to the kids.

Some educational toys can be played together with friends and family. The kids will learn about shape, colors, numbers, alphabet, strength, weakness, strategy and many more things from it. In the Netherlands we have Loco set toys. It has different level for every age. The toys consist of questions, then you have to try to answer. Later you can directly check the answer in the back of the pages. We will learn how to focus on the questions and be patient when answering the questions, because sometimes the questions are tricky. It’s a very fun toys.

Today, I’ve got 2 story telling books for my son friends who are still < 2 years old. I have to find 2 more gift for > 4 years old toddler. Maybe I’ll find some educational toys for them.