Mengenalkan Islam pada anak

Mengenalkan Islam pada anak kecil menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua yang tinggal di negara non-muslim. Kadang susah, tapi bukan berarti tidak bisa. Banyak keluarga muslim Indonesia yang mempunyai putra-putri sholeh dan sholehah. Pintar mengaji, berkepribadian sopan dan baik, berpakaian rapi bahkan banyak yang memakai jilbab sejak kecil. Mereka pun cukup cerdas dan berprestasi di sekolah. Aku dan suami harus banyak belajar dari senior-senior ini yang InsyaAllah sudah terbukti metodenya dalam mendidik anak di Belanda.

Sholat Jumat di Masjid AL Fatih
Sholat Jumat di Masjid AL Fatih

Salah satu ihktiar kami mengenalkan Islam kepada Sena adalah membawanya ke masjid untuk sholat Jumat, jika ada hari libur yang bertepatan dengan hari Jumat. Seperti setiap hari Jumat selama liburan musim panas kemarin. Ternyata dia senang pergi ke masjid, tanpa janji-janji apapun. Dia duduk disamping ayahnya dan mengamati orang-orang yang sholat di masjid. Dia melihat perbedaan bentuk masjid (moskee) dan gereja (kerk). Aku menjelaskan, karena Sena muslim, sena pergi ke moskee untuk sholat. Sedangkan Fabian pergi ke Kerk untuk beribadah karena dia Kristen. Fabian adalah sahabat baik Sena di sekolah.

Alhamdulillah sejak seminggu lalu, Sena rutin ikut aku sholat Dhuhur dan Ashar. Meskipun kadang dia masih sholat sambil goyang-goyang, melongok kesana kemari, buka-buka mukenaku untuk melihat bagaimana posisi tanganku. Tapi aku sangat bangga dan menghargai usahanya untuk belajar sholat. Jadwal sholat yang lain masih terlalu sulit untuk dia ikuti. Subuh di Belanda jatuh di jam 4.30 pagi, Maghrib jam 8.30 malam dan Isya’ jam 11.20 malam. Dia mengikuti gerakan-gerakan sholat dan menirukan bacaan Al Fatihah dan surat-surat pendek yang kubacakan. Sengaja aku membaca surat-surat yang sudah dia hafal seperti Al Iklas, An Naas dan Al Falaq. Tapi itu semua karena dia sedang liburan sekolah. Sejak hari ini Sena masuk kembali ke sekolah. Semoga dia masih mau meneruskan kebiasaan ini.

Mengulang ulang halaman ini hingga lancar (Iqra 3)
Mengulang ulang halaman ini hingga lancar (Iqra 3)

Selain membiasakan sholat, Sena juga rutin mengaji. Meskipun ada TPA di kota kami, tapi Sena tidak bisa ikut karena jadwalnya yang kurang pas. Akhirnya Sena belajar sendiri di rumah, di ajar oleh ayahnya. Sena mengaji tiap sore hari selama kurang lebih 15 menit. Alhamdulillah sekarang Sena sudah berada di pertengahan Iqra 3. Setelah membaca Iqra, Sena menghafal surat pendek lalu tidur.

Kami membiasakan Sena memakai baju yang rapi jika pergi keluar rumah. Ternyata Sena suka memakai baju koko, bahkan untuk pergi ke sekolah. Hari Jumat adalah hari dimana dia memakai baju koko atau batik dari Indonesia. Dia sangat bangga dan menceritakan tentang bajunya kepada bu guru dan teman-teman di sekolah. Alhamdulillah, pihak sekolah pun tidak mempermasalahkan dia memakai baju yang sedikit “berbeda” dari teman-temannya.

Sena suka memakai baju koko
Sena suka memakai baju koko

Kami juga berusaha mengenalkan Sena pada Allah. Saat dia senang, kami ingatkan dia bahwa kesenangan itu berasal dari Allah dan Sena harus mengucapkan Alhamdulillah atau danke wel Allah. Saat dia pengen sesuatu, kami biasakan dia untuk berdoa meminta pada Allah. Terlebih jika dia sakit atau salah satu dari kami sakit. Dia akan segera berdoa: Ya Allah, Sena mau Bunda better. Danke wel Allah. 🙂

Meski hingga saat ini hanya ini yang bisa kami lakukan untuk mengenalkan Sena pada Islam, insyaAllah kami akan konsisten. Sehingga nilai-nilai Islam akan tetap dipegang teguh oleh Sena hingga dewasa nanti, sebagai pegangan hidupnya. Dan menjadikan dia sebagai anak yang sholeh. Amiiin.

Advertisements

Summer vacation at home is FUN

Liburan musim panas kali ini kami tidak pergi kemana-mana. Jadi aku harus mencari ide kegiatan apa saja yang bisa di lakukan Sena selama liburan di rumah. Liburan musim panas di Belanda sekitar 6 minggu, cukup lama kan hehe 😀

Awalnya aku takut dia bosan dan sedih karena kami tidak pergi berlibur seperti teman-temannya. Tapi Alhamdulillah dia baik-baik saja dan tidak merasa bosan, hingga akhirnya liburan musim panas kali ini hampir berakhir.

bermain di private playground
bermain di private playground

Di awal liburan, cuaca Belanda kurang bagus. Kadang hujan gerimis turun sepanjang hari. Jadi kami hanya bermain di dalam rumah. Sena bermain Lego, Squla (educative games di laptop), mobil-mobilan, nonton tv, dan membaca buku. Aku mengatur tempat bermainnya sedemikian rupa seperti ruang bermain di sekolahnya. Jadi dia bermain Lego dan Duplo di Building corner, bermain Squla di Computer corner, membaca buku di Book corner, dan lain-lain. Dengan begitu dia bisa belajar disiplin seperti di sekolah, bermain di tempat masing-masing. Aku juga tidak terlalu repot saat membersihkan mainan-mainannya.

having fun with best friends
having fun with best friends

Saat cuaca makin membaik, kami pergi ke playground. Ada banyak 5 playground di kompleks rumah kami. Jadi kami bermain di satu playground hari ini, dan di playgound lain keesokan harinya. Sena senang sekali bermain pasir, seluncuran, memanjat dan berlari-larian. Tapi tidak banyak anak-anak yang bermain, sebagian besar dari mereka pergi berlibur bersama keluarganya. Memang orang Belanda sangat suka berlibur, terutama di musim panas. Mereka selalu mengambil jatah libur minimal 3 minggu selama musim panas.

Berkunjung ke rumah teman
Berkunjung ke rumah teman

Agar Sena tidak melupakan kemampuan berbahasa belandanya (karena kami memakai bahasa Indonesia selama di rumah), aku membawanya bermain ke rumah teman Sena atau mengundang temannya datang ke rumah. Jadi dia tetap bisa bersosialisasi sekalian mengusir rasa bosannya bermain sendiri di rumah. Kadang kami pergi ke perpustakaan, ke supermarket, berenang dan bermain di indoor playground besar di pusat kota. Hampir tiap hari Sabtu kami pergi menjenguk teman-temanku yang baru melahirkan. Sepertinya banyak sekali bayi lahir di musim panas 😀 Dari kecil Sena suka melihat bayi. Dia menganggap semua bayi-bayi itu adalah adiknya hehe 😀

Suamiku juga mengambil cuti selama 3 minggu. Ada dua kegiatan penting yang harus dia lakukan selama musim panas ini. Dia berencana mengecat sebagian tembok rumah kami dan mengajari Sena naik sepeda. Kami berharap dia sudah lancar naik sepeda saat liburan selesai. Pekerjaan mengecat ini cukup membuat stress karena cuaca Belanda yang berubah deng

Kraambezoek to baby Rana
Kraambezoek to baby Rana

an cepat. Kadang seharian matahari bersinar dengan terik, tiba-tiba di malam hari hujan turun dengan deras. Jadi suamiku harus mengecat temboknya berulang-ulang agar mendapat hasil cat yang rata. Alhamdulillah Sena bisa lumayan cepat belajar naik sepeda. Meski sempat takut dan mogok tidak mau belajar lagi setelah dia terjatuh dari sepeda yang baru dicopot roda tambahannya, akhirnya Sena sudah bisa naik sepeda roda dua. Total waktu yang diperlukan sekitar 2 minggu. Tiap hari dia belajar 2 kali, sekitar 15-20 menit. Sayang sekali sudah dua hari ini hujan turun tanpa henti, jadi Sena belum belajar naik sepeda lagi agar lebih lancar. Jadi kemungkinan kami belum berani membiarkan dia naik sepeda sendiri ke sekolah minggu depan. Biasanya lalu lintas di sekitar sekolah cukup padat di pagi hari, masih terlalu berbahaya untuk Sena.

Bersepeda roda dua
Bersepeda roda dua

Demikianlah kegiatan Sena selama liburan musim panas tahun 2015.

Tips berhemat di negeri orang

Memasak makanan sendiri sudah terkenal sebagai salah satu cara berhemat saat tinggal di negeri orang. Apalagi jika kita tinggal di negara dimana kita susah mencari makanan yang cocok (aman dan halal) untuk kita konsumsi. Tentu saja memasak makanan sendiri tidak perlu rasanya enak, yang penting bisa dimakan. Jangan khawatir, lama-lama kita bisa belajar dari kesalahan dan akhirnya bisa memasak dengan benar (dan rasanya menjadi enak).

Sudah 6.5 tahun lamanya aku dan keluarga tinggal di Belanda. Meski tidak sulit mencari rendang, soto, bakso dan lain-lain di sini, tapi kami lebih sering memasak sendiri makanan-makanan itu di rumah. Selain lebih murah (dan halal), menurutku rasanya lebih enak dari pada beli di restoran Indonesia disini. Karena rasa masakan-masakan itu kadang sudah di sesuaikan dengan lidah orang Eropa yang tidak tahan pedas dan lain-lain. Meski begitu, kadang aku juga beli masakan-masakan yang benar-benar tidak bisa saya masak, seperti pempek dan masakan padang.

Sebagai ibu rumah tangga, tentu aku ingin bisa berhemat dalam hal mengelola pengeluaran keluarga. Meski agak susah, bisa menghemat 1-2 euro seminggu saja aku sudah senang haha 😀 Selain memasak makanan sendiri, berikut beberapa hal yang sering kulakukan untuk berhemat:

1. Sebelum belanja di supermarket, cek diskon apa saja yang sedang berlaku di supermarket tersebut. Coba rencanakan menu keluarga berdasarkan bahan-bahan kebutuhan dapur yang sedang di diskon.

2. Tanam daun bawang, seledri dan mint sendiri di rumah. Caranya: beli daun bawang yang masih ada akarnya, potong bagian daunnya dan tancapkan akarnya ke tanah. Dalam 2 minggu, daun baru bisa di potong. Begitu juga dengan seledri dan mint.

3. Buat taoge sendiri. Caranya: ambil segenggam kacang hijau. Cuci dan rendam kacang hijau semalaman. Lalu di cuci dan ditiriskan. Simpan di wadah kering, tutup dengan plastik wrap, tusuk-tusuk plastik dengan garpu. Simpan di tempat gelap dan hangat. Cuci dan tiriskan kacang hijau 2x sehari. Dalam 3 hari taoge siap di konsumsi untuk soto atau rawon. Dalam 4 hari taoge cocok untuk di hidangkan di nasi pecel atau bakwan.

4. Di musim semi, coba tanam cabe, terong, buncis dan sayuran lain yang sering kita konsumsi. Tentu saja pilih yang mudah di tanam dan perawatannya tidak mahal.

6. Untuk cemilan anak, cobalah belajar memasak kue sendiri. Misalnya pancake, muffins, banana cake, cheese cake dll. Kue-kue ini adalah kesukaan anak-anak tapi harganya lumayan mahal. Jadi kalau bisa bikin sendiri kita bisa memuaskan anak dan perut pun jadi kenyang 😀

Tips dariku segitu saja, kalau ada tips lain nanti akan kutambahkan. Jika tertarik, silahkan mencoba. Semoga bermanfaat. 🙂

Play date (Afspreken)

Sejak menjadi murid basisschool, Sena mulai mendapat undangan play date (afspreken) sepulang sekolah. Dalam play date, dua atau tiga anak bermain bersama sepulang sekolah di salah satu rumah anak-anak tersebut selama 2-3 jam. Biasanya orang tua meninggalkan mereka bermain dibawah pengawasan tuan rumah, lalu setelah 2-3 jam mereka akan di jemput.

Awalnya aku enggan membawa Sena untuk play date karena aku khawatir Sena (dan aku) tidak bisa berkomunikasi dengan temannya. Karena aku tidak bisa berbahasa Belanda. Tapi lama-lama aku menyadari bahwa play date adalah hal yang biasa untuk anak-anak seusia Sena dan penting untuk proses adaptasi dan bergaul di sekolah. Maka aku izinkan dia play date di rumah Kyan. Kyan adalah anak keturunan Indonesia-Korea-Belanda. Aku kenal baik dengan ibunya. Jadi aku bisa ikut ke rumah Kyan saat play date Sena yang pertama. Aku ingin melihat bagaimana aktivitas Sena saat play date. Ternyata Sena tidak punya masalah komunikasi dengan Kyan (dan mamanya), dia juga bersikap sopan, tidak kasar saat bermain.

Akhirnya undangan play date berdatangan, dari Roel, Luuk, Meintje, Fabian, dll. Sampai saat ini Sena sudah beberapa kali main ke rumah temannya, tapi hanya satu anak yang main ke rumah Sena. Aku memang masih merasa takut jika tidak bisa mengerti/menjawab pertanyaan teman-teman Sena, jika mereka main ke rumah. Lagipula teman-teman Sena punya mainan lebih banyak darinya. Sena selalu senang saat pulang ke rumah setelah play date. 😀

Sena and Fabian play date
Sena and Fabian play date

Tapi menurutku, lebih baik aku menjadwalkan kegiatan ini agar Sena lebih disiplin waktu. Misalnya play date hanya dilakukan 2x seminggu. Aku melihat kegiatan ini punya sisi positif juga. Sena jadi punya lebih banyak teman, kemampuan berbahasanya meningkat dan dia lebih mandiri (main tanpa di temani orang tua). Dia juga belajar bagaimana bersikap di rumah orang lain. Orang tua teman-teman Sena juga mulai mengenal kami dan tidak segan lagi menyapa kami jika bertemu di sekolah atau di jalan. 🙂

The best gift for toddler

My son is getting more and more birthday invitation from his friends. It means I have to prepare a gift for them. I have my own standard of what kind of gift I will buy and how much the cost.

For me, the best gift for toddler are books and educative toys/games. Instead of buying automatic cars with remote control or barbie doll, I prefer to buy story telling books or building blocks (wooden or plastic). It doesn’t have to be the expensive Lego, but the most important thing is the kids use his brain, hands and feet to play with it.

The book brings a close relationship between the kids and their parents when they read it together. It also adds vocabulary and imagination for the kids. In the end of the story, parents can summarize the value of the story, whether it’s bad or good and explain it to the kids.

Some educational toys can be played together with friends and family. The kids will learn about shape, colors, numbers, alphabet, strength, weakness, strategy and many more things from it. In the Netherlands we have Loco set toys. It has different level for every age. The toys consist of questions, then you have to try to answer. Later you can directly check the answer in the back of the pages. We will learn how to focus on the questions and be patient when answering the questions, because sometimes the questions are tricky. It’s a very fun toys.

Today, I’ve got 2 story telling books for my son friends who are still < 2 years old. I have to find 2 more gift for > 4 years old toddler. Maybe I’ll find some educational toys for them.

One Day One Lembar

When people were enthusiastic to join One Day One Juz (ODOJ), I joined One Day One Lembar (ODOL) instead. Because I know I won’t be able to finish one juz in a day. So I thought one lembar is OK.

At first, I can managed to submit the entry on time. But these couple of weeks were terrible. I didn’t even submit new entries for days.

What is wrong with me? Can’t even have a time to read one lembar? But managed to read crap news, boring status, watch movies, etc for hours. WHAT A SHAME!!!

So what am I going to do with this?

24 hours a day

Everybody gets 24 hours a day, 7 days a week, 365 days a year.

But what makes them different is how they’ve used their time. Whether they stay still in their position after sometimes of move forward or even backwards.

People always said, today should be better than yesterday and tomorrow should be better than today. And it will be on and on again. That are our goal in life. But in the end, some people did the same or even worse than what they’ve achieved yesterday.

They have the same amount of time, the same of goal, but the results are different. How that is possible?

Is 24 hours a day is not enough for us? Is the goal should be reformulated?

The answer is in our heart. Look deep inside our heart and be honest to accept what ever it is.

-note to my self-