DDBY jilid 2

Olala…postingan terakhirku di blog ini sudah hampir setahun yang lalu 😀

Kali ini aku mau cerita tentang DDBY jilid 2 😉

DDBY adalah singkatan dede bayi. Dulu, saat mengandung Sena, istilah ini muncul. Ada beberapa posts tentang proses kehamilan dan kelahiran Sena. Saat itu aku masih rajin menulis blog. Ternyata tulisan-tulisan itu bermanfaat juga untuk beberapa orang pembaca dan terutama untukku saat mengandung anak kedua ini. 🙂

Yup, Alhamdulillah kami diberi kepercayaan lagi untuk menjaga titipan Allah. Saat ini aku sedang mengandung (minggu ke-23). 🙂

Sekitar bulan April-Mei 2016, aku merasa lemah dan sering sakit. Aku mulai sering mual-mual dan muntah. Tapi saat itu aku pikir aku memang sedang sakit karena pergantian musim dan stress karena aku sedang mengerjakan proses terakhir dari thesisku.  Aku pun mengkonsumsi obat batuk yang dosisnya cukup tinggi, berharap sakitku segera sembuh. Akhirnya aku curiga dan melakukan test-pack yang menunjukkan hasil positif. Antara kaget, senang, takut, perasaan kami campur aduk saat menerima berita ini. Tapi akhirnya kami sadar, Allah memberikan kepercayaan kepada kami untuk merawat bayi ini, dan kami bersyukur pada Allah SWT. 🙂

Akupun segera menghubungi bidan (midwife) di pusat kesehatan terdekat, untuk membuat jadwal periksa pertama. Meski aku khawatir akan efek samping obat-obatan yang kukonsumsi saat itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bidan tidak bisa memeriksaku lebih awal, pemeriksaan pertama harus dilakukan pada minggu ke-8 dari kehamilan.

Saat pemeriksaan pertama, aku mendapatkan vaginal-ultrasound. USG ini bertujuan untuk mengetahui detak jantung bayi, berapa jumlah janin dan apakah janin menempel di dalam uterus. Bidan juga menjelaskan tentang berbagai hal yang harus disiapkan oleh orang tua selama kehamilan seperti menghubungi Kraamzorg (bidan yang membantu merawat bayi di rumah setelah kelahiran), asuransi dan berbagai tes yang harus di jalani selama kehamilan, seperti USG, prenatal screening, anomaly tes, tes darah dan Down syndrome tes. Bidan memberikan satu set map dan brosur yang harus kubawa setiap kali datang untuk check up.

Dua minggu kemudian (minggu ke-10) aku datang lagi untuk melakukan USG due date (HPL) dan tes darah. Alhamdulillah bidan memperkiraan HPL adalah 16 Desember 2016. Setelah mengetahui HPL, aku bisa menghubungi pihak asuransi, sehingga biaya medis ku selama kehamilan bisa segera dicover. Kebetulan aku memakai asuransi OHRA (level basic). Ternyata level ini hanya mengcover konsultasi bidan, USG, proses melahirkan di rumah/rumah sakit (jika ada medical reason) dan pendaftaran kraamzorg. Jika aku ingin mendapatkan coverage yang lebih luas, aku harus meningkatkan level asuransiku (ke level Uitgebreid). Hal ini bisa dilakukan di bulan-bulan terakhir kehamilan. Setelah proses kehamilan-kelahiran selesai, level asuransi bisa diturunkan kembali (as per January). Selain menghubungi asuransi, aku juga harus mendaftar ke Kraamzorg. Setelah mencari rekomendasi dari teman-teman di Eindhoven, aku memutuskan untuk mendaftar di ZuidZorg Kraamzorg. Pertimbangannya karena agen kraamzorg ini adalah yang terbesar di Eindhoven dan memiliki banyak pengalaman dengan foreigner sehingga aku berharap mereka benar-benar bisa membantuku merawat bayiku di minggu pertama kelahirannya tanpa ada kendala bahasa atau budaya. Pada minggu ini aku juga harus membuat janji periksa USG prenatal screening di Diagnostiek voor U (DvU) untuk minggu ke-20 kehamilan.

Selama menunggu hingga minggu ke-20, ternyata aku mengalami beberapa masalah. Mual-muntah ku terlalu parah. Kadang aku mual sepanjang hari dan harus muntah sebanyak 5 kali sehari. Selain itu, aku mengeluarkan brown-discharge hampir setiap hari, saat aku beraktivitas. Padahal aktivitas yang kulakukan adalah aktivitas normal seperti belanja, mengantar Sena sekolah, memasak, membersihkan rumah dll. Karena hal-hal ini tidak normal maka dokter memberikanku obat pereda mual selama 2 bulan. Bidan juga merekomendasikanku untuk periksa ke gynaecoloog  di RS MMC-Veldhoven untuk mengetahui penyebab keluarnya brown-discharge. Setelah menjalani beberapa kali kunjungan ke RS untuk melakukan pap-smear test dan infection test, dokter menyimpulkan tidak ada infeksi di dalam uterus, tetapi saluran cervix ku memang agak mudah berdarah. Hal ini kemungkinan karena banyak kelenjar darah yang terbentuk disana selama awal proses kehamilan. Aku hanya disarankan untuk mengurangi aktivitas saja. Ternyata setelah kehamilan memasuki bulan ke-4, brown-discharge dan mual-muntah yang kualami berhenti dengan sendirinya.

Tiba saatnya aku melakukan prenatal screening di DvU (minggu ke-21). Petugas USG memeriksa ukuran kepala, perut, kaki, tangan dan semua organ tubuh bayi. Kesimpulan dari tes ini mengatakan bahwa bayiku memiliki organel yang lengkap tapi ukurannya terlalu kecil. DDBY-2 ternyata memiliki jenis kelamin perempuan. Alhamdulillah. Petugas DvU merekomendasikan aku untuk melakukan double tes USG di RS MMC (minggu ke-22). Setelah pergi ke RS, ternyata hasilnya sama. Dokter gynaecoloog merekomendasikan aku untuk melakukan Advance USG di Academisch Ziekenhuis Maasctricht (minggu ke-23). Hasil advance USG menyatakan bahwa tidak ada anomali dan infeksi pada bayi, tetapi ukuran perutnya agak kecil. Jadi mereka akan memantau perkembangan bayiku lebih intensif. USG akan dilakukan 2 minggu lagi di RS MMC.

Sebenarnya kami sudah bersiap menerima berita bahwa ukuran bayiku kecil, karena dulu Sena dulu dinyatakan seperti itu. Tapi Alhamdulillah setelah pemeriksaan intensif, bayi Sena tumbuh dengan baik selama dalam kandungan dan lahir dengan ukuran normal (3.14 kg). Ada beberapa alasan kenapa ukuran janin kecil, seperti karena secara genetic ukuran orang tuanya tidak terlalu besar, kebiasaan ortu (meroko, minum-minuman keras), terdapat defect/infeksi didalam janin yang menyebabkan janin tidak mendapatkan nutrisi yang cukup, downsyndrome, dll. Meski dokter memperkirakan ukuran bayiku kecil karena secara genetic akupun tidak terlalu besar, tapi mereka tetap harus mengikuti prosedur beberapa tes USG untuk mengetahui adakah sebab yang lain. Akupun mengikuti saja prosedur itu, menurutku lebih baik berhati-hati dari pada nanti ada masalah di belakang yang tidak terdeteksi.

Demikian catatan tentang DDBY jilid 2, insyaAllah akan diteruskan lagi. Mohon doanya semoga DDBY-2 selalu sehat, lahir dengan selamat, tumbuh jadi anak yang baik, sehat dan sholehah. Amiiin. 🙂

 

DDBY-2 tampak samping :)
DDBY-2 tampak samping 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s