Toilet training is tough work…

Sudah sejak bulan agustus lalu aku memberikan toitlet training pada Sena (3y 6m). Tapi sampai sekarang Sena belum lulus. Meski sudah bisa menahan pipis tapi dia masih belum mau bilang kalau mau pipis atau BAB. Kalau tidak ku ajak ke toilet dia pasti pipis dan BAB di celana. Aku sudah memakaikan easy-up diaper, menerapkan metode reward and punishment, bahkan guru di sekolahnya juga sudah membantu, tapi Sena masih tetap belum lulus. Kali ini aku benar-benar khawatir, karena training ini sudah berjalan selama 6 bulan dan 6 bulan lagi dia akan masuk SD. Saat itu anak-anak seharusnya sudah tidak memakai popok. 

Yang parah, seluruh lantai di rumahku tertutup karpet. Jadi tiap Sena ngompol, aku harus menyikat karpetnya hingga bersih dan menyemprotnya dengan pewangi untuk menghilangkan najis dan baunya. Tak jarang Sena ngompol di sofa. Aku harus menyikat selimut sofa yang tebalnya minta ampun itu. Akhirnya aku beli selimut sofa baru yang lebih tipis. Aku memulai training ini saat musim panas dengan perkiraan (harapan) Sena cuma butuh beberapa minggu untuk lulus. Aku memilih musim panas untuk memulai training agar cucianku bisa cepat kering. Tapi hingga memasuki musim dingin, Sena belum lulus trainingnya. Akhirnya aku harus menjemur cucianku di pemanas ruangan. 

Meskipun toilet training di siang hari belum lulus, aku memberanikan diri memberi toilet training di malam hari juga sejak beberapa hari lalu. Alhasil Sena terbangun tiap 2-3 jam sekali dengan kondisi ngompol. Dan jam tidurku juga jadi ikut berantakan. Aku takut membangunkan suamiku karena dia capek sekali sepulang kerja dan dia harus bangun pagi-pagi untuk berangkat bekerja. Untung melapisi kasur Sena dengan perlak, lalu kututup dengan seprai. Akhirnya cucianku benar-benar menumpuk; celana panjang dan dalam Sena kotor, seprai kotor, selimut juga kotor. It’s quite a hard work…hehe 😀

Sepertinya aku punya andil dalam kegagalan training Sena ini. Aku kurang konsisten tidak memakaikan popok ke Sena, terutama saat kami harus keluar rumah. Selain itu aku sering memarahi Sena saat dia pipis atau BAB di celana. Aku menjadi sangat emosional, sepertinya aku merasa gagal setelah berbulan-bulan Sena masih belum lulus. Meskipun setelah marah kami berpelukan, tapi aku tetap merasa menyesal. Aku banyak membaca artikel yang tidak membolehkan kita memaksa bahkan memarahi anak selama toilet training, karena anak akan merasa trauma dan malah menolak training yang diberikan. Tapi sungguh aku tidak bisa menahan kemarahanku, terlepas begitu saja. Memang bukan hanya masalah toilet training ini saja yang menyulut kemarahanku, sepertinya ini adalah akumulasi dari berbagai permasalahan yang kuhadapi. 

Setiap hari aku bangun dan berharap hari ini aku tidak perlu memarahi Sena. Meski akhirnya harapanku gagal, tapi paling tidak aku tidak akan berhenti berharap, seperti aku akan tetap mencoba memberikan training pada Sena hingga dia lulus. Simply because, deep inside my heart…I love him. 

Advertisements

2 thoughts on “Toilet training is tough work…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s