Dilema dual bahasa

Sena (3 tahun) lagi senang-2nya ngoceh. Tetapi karena bahasanya campuran (belanda-indonesia) tidak banyak orang yang mengerti apa yang dia bicarakan. Orang belanda bingung, orang indonesia juga bingung hehe…:D Tapi dia sangat pede mengajak orang lain ngobrol. Dari orang dewasa hingga bayi di ajak ngobrol sama Sena. Ketemu di kereta, di kasir, di taman bermain, bahkan tukang cat yang lagi kerja di rumah di ajak ngobrol dan main.

Aku sendiri kadang bingung memahami obrolannya. Tapi karena aku sering mendampinginya menonton tivi, kurang lebih aku mengerti tema pembicaraannya karena dia juga banyak menceritakan tentang acara-2 atau tokoh tivi yang dia tonton. Kadang dia bercerita tentang mainan seperti auto (mobil), trein, ball, dieren (hewan), kleur (warna), dll.

Misal, hari ini kami pergi ke kantor imigrasi untuk memperpanjang ijin tinggal. Sena mengajak ngobrol petugas loketnya. Mereka berbicara tentang ikan di laut.

Sena: kijk, ada vissen in de ocean. (dia pura-2 berada di pantai, daerah di bawah meja adalah laut).

petugas: echt waar,Β kunt u de vis te vangen. (oya, bisakah kau menangkap ikannya?)

Sena: Ja, naturlijk. met vishengel (harusnya bilang: ik vang de vis met vishengel). πŸ˜›

Lalu dia pura-2 mancing, dapat ikan dan memasukkannya ke dalam ember (sambil ngoceh macam-2). πŸ˜›

Sena: here tante, vis voor u, voor mam (maksudnya untuk dimakan. harusnya bilang: om te eten). πŸ˜›

petugas: (bingung trus ketawa, tapi akhirnya mengerti)…haha, dank u wel. πŸ™‚

Dan obrolan itu terus berlanjut hingga urusan di kantor itu selesai. Bahkan petugas loket lain yang sedang tidak bertugas ikut mengobrol.

Saat kami meninggalkan kantor itu dia menyapa semua orang…dagh tante, dagh oom….haha πŸ˜€

Menurutku Sena adalah anak yang cukup ramah dan tidak takut bergaul dengan orang baru (atau memang anak seusianya biasa melakukan hal itu?). Dia tidak takut menyapa, memulai pembicaraan dan mengobrol. Tetapi kalimatnya yang masih campur-2 itu membuatku agak khawatir (atau ini wajar untuk anak yang tinggal di lingkungan dua bahasa seperti ini?). Mungkinkah aku yang melakukan kesalahan saat berkomunikasi dengannya, sehingga dia belum bisa membentuk sebuah kalimat panjang yang baik dalam bahasa indonesia atau belanda? Kuharap saat dia masuk sekolah (play group) lagi bulan depan bu guru bisa membantunya mengatasi masalah ini.

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Dilema dual bahasa

    1. Menurutku kalau tinggal di Indonesia saja, lebih baik dilancarin bahasa Indonesianya mbak Rahmi. Bahasa Inggris bisa diajarin nanti pas sekolah. Ternyata susah ngajarin dua bahasa pada anak usia dini. Tidak semudah yang dibayangkan… πŸ™‚

  1. Sena sptnya ramah bgt ya mbak, jd pgn dgr ocehannya.. Lucu bgt pasti..
    Masih anak2 udh jago gtu Sip bgt Mbak, mkin lbh srg diajak ngbrol/ntn film yg bsa Belanda kn sementara yg kpake bhs belanda.. πŸ˜‰

    1. Hehe, makasih dah mampir mbak Muna. Iya, pengen kurekam sekali-2 kalau dia lagi ngoceh sendiri. Memang sekarang belajar bahasanya dari tivi saja, nonton film2 di baby tv, nick junior dll, tapi yang sudah di dubbing bahasa Belanda. πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s