My way of finding the “Door”

Aku tidak pernah menyangka bisa menjejakkan kaki di negerinya Song Hye Kyo, memakai baju seperti Dae Jang Geum dan berjalan di setapak yang dilalui pasangan Bai Yong Joon-Choi Ji Woo dalam drama Winter Sonata. Sejak SMA aku memang sudah berusaha pergi keluar negeri (lewat program AFS) tetapi Korea tidak termasuk daftar negara tujuanku. Meski gagal di seleksi akhir AFS, aku tetap menyimpan mimpi untuk pergi ke luar negeri.

Mimpi itu terpendam, bahkan hingga aku lulus kuliah. Tenggelam dalam usaha mencari pekerjaan di belantara ibukota membuatku lupa pada mimpi itu. Sampai 2 tahun setelah kelulusanku aku belum mendapat pekerjaan tetap. Sudah tak terhitung berapa surat lamaran yang kukirim, puluhan wawancara dan tes yang kukerjakan. Semuanya berujung pada kegagalan, kekecewaan dan kesedihan. Aku sangat stress dan tidak percaya diri. Untuk mengisi waktu luang dan membayar uang kos, aku ambil pekerjaan serabutan apa saja yang kudapatkan. Aku pernah menjadi menjadi asisten praktikum di kampusku, staff data entry di sebuah bank di Jakarta, guru praktikum di sebuah sma di Depok dan guru les privat. Semua pekerjaan itu hanya bersifat temporer dan gajinya sedikit sekali, hanya cukup untuk transport dan bayar kos. Kakak-kakakku masih menanggung sebagian besar pengeluaranku. Hal itu tambah membuatku stress. Aku tak ingin membebani mereka lagi (meski mereka bilang tidak masalah dengan hal itu), aku merasa sudah saatnya aku mandiri secara financial.

Meski sudah hampir 10 tahun yang lalu, aku masih ingat betapa sulitnya pengalamanku mencari pekerjaan di Jakarta. Diantaranya adalah wawancara di daerah Banten yang tidak pernah kukunjungi sebelumnya, tes tulis bersama ribuan orang untuk posisi MT-Bank Mandiri, 2 kali tes PNS hingga menjadi salah satu korban ledakan bom di Kedutaan Besar Australia (tahun 2004). Kebetulan aku sedang mengerjakan tes tulis di Plaza 89, tepat di depan kedutaan. Alhamdulillah aku memilih duduk di dekat pintu, jauh dari jendela kaca. Beberapa teman yang duduk di dekat kaca mengalami luka cukup serius, karena hampir seluruh kaca jendela gedung itu pecah saat bom itu meledak. Tak kami hiraukan tes yang belum selesai, kami berlarian keluar gedung melewati tangga darurat. Tak bisa kulupakan suasana kacau dan tubuh-tubuh yang tergeletak berdarah di lobby hotel dan di sepanjang jalan. Aku takut melihat darah, maka aku langsung berlari menjauh dari tempat kejadian sambil menangis. Seorang bule juga lari ke arah yang sama denganku. Wajahnya berdarah kena pecahan kaca. Aku memberikan selembar tisyu padanya untuk mengusap darahnya. Hanya itu yang bisa kulakukan. Baru keesokan hari aku menyadari betapa besar efek ledakan bom itu, 11 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka. Aku tak berhenti bersyukur pada Allah SWT karena selamat dari kejadian ini.

Setelah mengalami berbagai kejadian pahit, aku mulai berfikir, mungkinkan aku tidak ditakdirkan untuk mendapat pekerjaan. Ini bukan jalanku, pintu pekerjaan tertutup untukku. Aku harus mencari jalan dan pintu yang lain. Tapi pintu apakah itu? Mungkinkah aku menjadi wiraswasta? Tidak punya modal dan pengalaman membuatku ragu tentang hal itu. Mungkinkah aku menjadi ibu rumah tangga? Saat itu aku tidak punya pacar dan belum punya keinginan untuk menikah, maka kucoret kemungkinan tentang hal itu. Mungkinkah aku ditakdirkan untuk sekolah lagi? Kemungkinan ini ada tapi aku harus mencari beasiswa, karena aku tidak punya uang untuk biaya sekolah.

Suatu hari aku melihat account Friendster (waktu itu belum ada facebook) seorang senior di kampus. Ternyata beliau melanjutkan kuliah di Seoul, Korea Selatan. Aku mengirim pesan padanya, berbasa-basi dan bertanya adakah lowongan beasiswa ke kampusnya. Ternyata kampusnya memang sedang mencari mahasiswa asing untuk kuliah disana. Beasiswanya pun terbilang besar (untuk ukuran saat itu). Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tanpa pikir panjang aku tanyakan persyaratannya lalu aku segera melengkapi dokumen yang perlukan. Dengan bantuan dari seniorku itu jalanku mendapatkan beasiswa ke Seoul cukup lancar, hingga aku bisa menjejakkan kakiku di Korea Selatan pada tanggal 13 Februari 2006.

Akhirnya aku menemukan pintu yang terbuka untukku, pintu beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Aku sadar, tak semua orang bisa menemukan pintu ini. Maka, tak putus aku mengucapkan syukur pada Allah SWT atas petunjuk dan kesempatan yang diberikan padaku. It’s definitely a Blessing in Disguise for me. πŸ™‚

Di depan pintu kedatangan Incheon Airport (13-02-2004)
Di depan pintu kedatangan Incheon Airport (13-02-2004)

Tulisan ini diikutsertakan dalam momtraveler’s first Giveaway β€œBlessing in Disguise”

ga-birthday

Advertisements

14 thoughts on “My way of finding the “Door”

    1. Iya, amiiin mbak Haya. Sepertinya memang begitulah jalan yang diberikan untuk saya πŸ™‚ Terimakasih sudah mampir, salam kenal πŸ™‚

  1. Waahh.. Sngnya yg udh nyampe di Korea.. Bnran blessing in disguise bgt ya mak.. Aku jd bersemangat lg utk cari beasiswa nihh… Pgn lanjut kuliah πŸ˜‰
    Btw Makasih ya, sdh lgs terdaftar sbg peserta GA perdana ku πŸ™‚

    1. Sama2 mak Muna, terimakasih juga udah bikin GA dengan tema yang bagus πŸ™‚ Ayo, semangat nyari beasiswa. Sekarang banyak bgt beasiswa, tapi emang jadi banyak saingannya juga. Jadi kalau berusaha sungguh-2 dan berdoa, insyaAllah bisa dapat. πŸ™‚ Adiknya yang di Fontys dulu juga dapat beasiswa?

  2. OOh…
    seems i missed some storied behind the successful of the scholarship, especially the Bomb explosion in 2004.
    Anyway, it is a really nice ending.

    P.S for other readers/visitors: She got award as the best student in our batch when she studied in Korea.
    She is really brainy and a hard-working student!

    Additionally, it would be greatly appreciated if you can tell the story till you get position in Delft, too. I am sure this story can give motivation to more people who try to get scholarship abroad.

    salam dari Hannover

    1. Haha..I thought I’ve told you the story mas Boy πŸ˜› How to get to Delft is a long story, maybe I’ll write it in other post. About the award, I guess I was lucky to have a posdoct who helped me a lot. But I was not lucky to get a conference abroad to attend haha….:D *I guess you know what I mean* πŸ˜›
      Anyway, thanks for visiting my blog, I’m waiting for your “real visit” next month haha…;)

  3. iyah pit, kalo inget2 masa kuliah. udah kuliah di mipa itu gampang masuknya susah keluarnya. susah juga cari kerjanya, ngerasain juga kok masa2 disaat udah lulus tapi belom dapet kerjaan. ngerasain juga jadi guru privat bareng nyeni, eh gag dibayar pula. hiks hiks.
    tapi ya itu, Allah ternyata punya rencana indah dibaliknya, yang kita sendiri gag tau.
    iya pit, gag semua orang loh dapet kesempatan itu. aku dulu juga kepengen dapet scholarship keluar, cuma ya rasanya gag tega gitu ninggalin keluarga di rumah. hihihi.

    1. heh, parah ga dibayar >_< Emang nge-les-in itu ga selalu menyenangkan. Waktu itu aku dapat anak orang berada gt, trus minta les cuma biar aku ngerjain PR-2nya. Kalau dicek mamanya pura-2 belajar, kalau mamanya pergi ga mau belajar πŸ˜›
      Aku dulu juga pernah mau daftar ke kantormu ya jeng hihi πŸ˜›

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s