The birth of Sena

Minggu, 6 Juni, 2010
Jam 10 malam, setelah sholat Magrib, aku merebahkan diri di kasur. Tiba-2 cairan seperti pipis merembes deras. Aku langsung terlonjak kaget. Setengah berlari aku bergegas ke kamar mandi. Putra lagi sibuk menguras aquarium. Sambil menangis aku bilang “Masnya, air ketubanku pecah”. Kami langsung panik harus bagaimana. Tapi setelah melihat warna ketubannya jernih, kami sedikit lega. Berarti ga bahaya, bayinya baik-2 saja. Tapi kalau melihat air ketuban yang keluar deras banget, aku was was, semoga air ketubannya ga abis. Aku sempet berfikir untuk stay di kamar mandi semalaman, abis rumah penuh karpet gitu kalo kena air ketuban pasti nti susah bersiinnya. Akhirnya Putra membentangkan perlak di kasur dan lantai kamarku. Jadi aku bisa tiduran sambil menunggu keesokan harinya. Setelah sholat Isya, jam 12, aku mecoba untuk tidur.
Semalaman aku ga bisa tidur (hanya memejamkan mata saja). Perasaan takut campur bahagia campur ga nyaman (karena celana dalamku basah terus, padahal udah make pembalut). Aku mulai merasakan kontraksi sekitar jam 2 malam. Putra sudah terlelap tidur, dia terlihat capek sekali. Aku ga enak mau bangunin. Jadi aku tahan aja kontraksiku, lagi pula intervalnya masih cukup lama.
Senin, 7 Juni, 2010
Pagi-2 aku sudah mandi. Putra mulai ngecek semua perlengkapan yang harus dibawa ke RS. Jam 8 kami menelpon midwife. Kontraksiku sudah mulai sering, tapi aku masih sempat sarapan dan browsing sebentar. Saat midwife datang, dia langsung memeriksaku, ternyata aku udah bukaan 5. Dia menyarankan untuk segera ke RS. Putra langsung menelpon Luis, alhamdulillah dia baru sampe dirumah dari Frankfurt. Putra juga menelpon Mba Selly untuk menemaniku.
Luis terjebak macet..jadi terlambat sampe dirumah..huhu..aku makin kesakitan, kontraksiku makin sering. Mba Selly menemaniku bernafas, sementara Putra menyiapkan semua perlengkapan untuk ke RS. Akhirnya Luis sampai juga dirumah, kami bergegas ke RS. Di mobil, Putra dan Mba Selly terus mengingatkanku untuk bernafas. Tapi jalanan yang kami lalui ga rata, mobil jadi berasa goyang-2, bikin perutku tambah sakit. Aku meraung-2 kesakitan sambil terus mencoba bernafas.
Sesampai di RS, aku langsung dimasukkan ke ruang bersalin. Ganti baju untuk melahirkan (daster kiriman ibuku) trus berbaring di kasur. Saat midwife datang dan memeriksaku, ternyata aku udah bukaan 10. Waktunya ngeden. Aku ngeden di kasur, ternyata bayinya ga bisa keluar. Ganti, ngeden di kursi lobang (kayak toilet), bayinya ga keluar juga. Ganti posisi lagi, ngeden sambil berdiri, ga berhasil juga. Akhirnya, setelah hampir 2 jam ngeden ga berhasil, terpaksa aku diinduksi, biar kontraksiku lebih parah dan aku bisa ngeden lebih kuat. Tapi ga berhasil juga. Dosis induksi ditambah, tetep ga berhasil. Aku dah ga bisa ngitung berapa banyak dokter dan bidan yang membantuku, tiba-2 ruanganku penuh orang. Aku hampir putus asa, aku sudah capek banget dan ngantuk. Setiap ada yang mau memeriksaku, aku mulai protes,…”don’t touch me!!!”. Tapi semua orang tetap meng-encourage-ku untuk ga patah semangat, jadi aku tetep ngeden meskipun otakku dah minta untuk dilakukan cesar. Akhirnya seorang dokter tua datang dan memeriksaku. Seingatku aku sempat mencoba menendangnya, abis dia lama banget memasukkan tangannya di “lubangku”, sakitnya ga ketulungan. Akhirnya dia bilang, ga ada jalan lain, harus di cesar. Finally..aku lega, meskipun aku ga punya bayangan cesar itu kayak gimana, yang penting bayiku selamat. Karena aku tau aku ga bisa mengeluarkannya.
Ternyata kepala bayiku terlalu besar untuk melalui tulang pelvicku (panggul), jadi dia stuck ga bisa turun-2 meskipun sudah kudorong-2. Yah..sudah jalannya untuk lahir dengan operasi cesar.
Akhirnya aku di dorong ke ruang operasi. Selama perjalanan aku meraung-2 kesakitan karena kontraksiku menjadi-2. Aku selalu diingatkan untuk bernafas, agar bayiku tetap mendapat oksigen. Tapi rasa sakit yang amat sangat kadang membuatku teriak dan lupa bernafas. Alhamdulillah aku segera di suntik epidural (di tulang belakang). Rasa sakit langsung hilang berganti rasa numb dari dada hingga ujung kaki. Dan operasipun dimulai.
Tak berapa lama kemudian jerit tangis bayi terdengar. Bayi pertama kami, Fatih Antasena Saputra, telah lahir, tepat jam 14.59. Aku mulai menangis terisak-2, Putra juga sangat senang…hiks hiks..:((
Setelah operasi bayiku dibawa untuk dibersihkan dan ditimbang, Putra pergi bersamanya. Sedangkan aku di masukkan ke ruang perawatan selama kurang lebih 2 jam untuk diperiksa efek pasca operasi. Jadi aku tidak bisa melakukan IMD. Setelah kondisiku dinyatakan “aman” aku dipindahkan ke ruang biasa. Sena sudah menungguku disana. Dia tidur di dalam box. Lucu sekali, bibirnya merah, pipinya tembem, matanya cuma segaris hihi..:P Alhamdulillah.

Begitulah pengalamanku melahirkan jagoan pertama keluarga kami. Terimakasih kami ucapkan kepada keluarga dan teman-2 atas doa dan dukungannya selama aku hamil hingga melahirkan. Terlebih pada keluarga Saldi, Luis, Mba Intan, Mas Gea dan Mba Ari serta Mba Lisa. Hanya Allah yang bisa membalas semua kebaikan kalian. Sekali lagi terimakasih…:)
Sena sayang, maaf yah Bunda ga bisa ngelahirin Sena dengan cara normal, ga bisa nyusuin langsung setelah kamu lahir. Tapi semoga susu pertama yang dkau minum masih mengandung kolostrum yang cukup untuk melindungimu seumur hidup. Semoga Sena tumbuh menjadi anak yang kuat, sehat, pintar dan ga nakal. Jangan mudah sakit ya Nak, nti Ayah dan Bunda bingung dan sedih. Ayah dan Bunda akan berusaha menjadi orang tua yang baik buat Sena karena Ayah dan Bunda sayang sama Sena..:)

Advertisements

4 thoughts on “The birth of Sena

  1. Tante2 disini jugaaa (cozy) semoga dede sena menjadi anak yang sholeh :* chuu.. ditunggu jagoan berikutnya :p hihihi…

    Huhu.. membaca ceritanya, jadi sempet waswas.. 😦 semoga bundachu lekas sembuh 🙂 lam cayang dari kami2 disini :*

  2. @Tante Dewi: Alhamdulillah aku dah ga papa, recovery-nya mayan cepet. Jagoan berikutnya nunggu barengan ma tante Dewi aja kali yah..hehe..:D
    @Oom HabsQ: kebayang ga kalo nti Linda lahiran..hehe..:D
    @Tante Mela: hihi..aku juga terharu..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s