Siomay ayam-wortel

Hari sabtu lalu, saat bangun tidur, tiba-tiba aku membayangkan sepiring siomay disiram dengan bumbu kacang.Β Akhirnya aku segera mengeluarkan ayam fillet, udang dan kulit wonton dari freezer. Setelah semuanya di defrost, aku mulai membuat adonan siomay. πŸ™‚

Ternyata kulit wontonku sudah tidak layak pakai. 😦 Jadi aku harus naik sepeda sekitar 30 menit ke toko Asia demi si kulit wonton. πŸ˜€

Berikut resep modifikasi dari beberapa sumber di internet:

Bahan:

1 dada ayam fillet

15 ekor udang

4 siung bawang putih

100 gr tepung tapioka

2 butir putih telur

gula, garam, merica bubuk, saos tiram secukupnya

2 buah wortel ukuran sedang, diparut dengan parutan keju

Kulit wonton kukus dan goreng

Cara membuat:

  • Potong dadu ayam dan udang, geprek bawang putih, lalu masukkan kedalam food processor. Blender hingga halus.
  • Masukkan tepung tapioka, putih telur, gula, garam, merica bubuk dan saos tiram ke dalam adonan. Blender lagi hingga tercampur rata.
  • Keluarkan adonan dari food processor ke dalam wadah, lalu tambahkan parutan wortel, aduk hingga tercampur rata.
  • Adonan dibungkus dengan kulit wonton lalu dikukus selama 20 menit.
  • Setelah matang, siomay goreng bisa langsung di goreng.

siomay

Catatan:

  • Menurut beberapa website, penambahan labu siam kukus pada adonan bisa membuat siomay lebih empuk. Tapi karena aku tidak punya labu, jadi aku tidak menambahkannya.
  • Siomay goreng juga harus di kukus dulu untuk memastikan adonan ayamnya matang. Setelah itu baru di goreng. Dengan cara ini siomay tetap terasa crunchy.
  • Jangan lupa untuk mengukus sayuran pendamping siomay seperti kol, kentang, tahu dan telur.

 

 

DDBY jilid 2

Olala…postingan terakhirku di blog ini sudah hampir setahun yang lalu πŸ˜€

Kali ini aku mau cerita tentang DDBY jilid 2 πŸ˜‰

DDBY adalah singkatan dede bayi. Dulu, saat mengandung Sena, istilah ini muncul. Ada beberapa posts tentang proses kehamilan dan kelahiran Sena. Saat itu aku masih rajin menulis blog. Ternyata tulisan-tulisan itu bermanfaat juga untuk beberapa orang pembaca dan terutama untukku saat mengandung anak kedua ini. πŸ™‚

Yup, Alhamdulillah kami diberi kepercayaan lagi untuk menjaga titipan Allah. Saat ini aku sedang mengandung (minggu ke-23). πŸ™‚

Sekitar bulan April-MeiΒ 2016, aku merasa lemah dan sering sakit. Aku mulai sering mual-mual dan muntah. Tapi saat itu aku pikir aku memang sedang sakit karena pergantian musim dan stress karena aku sedang mengerjakan proses terakhir dari thesisku. Β Aku pun mengkonsumsi obat batuk yang dosisnya cukup tinggi, berharap sakitku segera sembuh. Akhirnya aku curiga dan melakukan test-pack yang menunjukkan hasil positif. Antara kaget, senang, takut, perasaan kami campur aduk saat menerima berita ini. Tapi akhirnya kami sadar, Allah memberikan kepercayaan kepada kami untuk merawat bayi ini, dan kami bersyukur pada Allah SWT. πŸ™‚

Akupun segera menghubungi bidan (midwife) di pusat kesehatan terdekat, untuk membuat jadwal periksa pertama. Meski aku khawatir akan efek samping obat-obatan yang kukonsumsi saat itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bidan tidak bisa memeriksaku lebih awal, pemeriksaan pertama harus dilakukan pada minggu ke-8 dari kehamilan.

Saat pemeriksaan pertama, aku mendapatkan vaginal-ultrasound. USG ini bertujuan untuk mengetahui detak jantung bayi, berapa jumlah janin dan apakah janin menempel di dalam uterus. Bidan juga menjelaskan tentang berbagai hal yang harus disiapkan oleh orang tua selama kehamilan seperti menghubungi Kraamzorg (bidan yang membantu merawat bayi di rumah setelah kelahiran), asuransi dan berbagai tes yang harus di jalani selama kehamilan, seperti USG, prenatal screening, anomaly tes, tes darah dan Down syndrome tes. Bidan memberikan satu set map dan brosur yang harus kubawa setiap kali datang untuk check up.

Dua minggu kemudian (minggu ke-10) aku datang lagi untuk melakukan USG due date (HPL) dan tes darah. Alhamdulillah bidan memperkiraan HPL adalah 16 Desember 2016. Setelah mengetahui HPL, aku bisa menghubungi pihak asuransi, sehingga biaya medis ku selama kehamilan bisa segera dicover. Kebetulan aku memakai asuransi OHRA (level basic). Ternyata level ini hanya mengcover konsultasi bidan, USG, proses melahirkan di rumah/rumah sakit (jika ada medical reason) dan pendaftaran kraamzorg. Jika aku ingin mendapatkan coverage yang lebih luas, aku harus meningkatkan level asuransiku (ke level Uitgebreid). Hal ini bisa dilakukan di bulan-bulan terakhir kehamilan. Setelah proses kehamilan-kelahiran selesai, level asuransi bisa diturunkan kembali (as per January). Selain menghubungi asuransi, aku juga harus mendaftar ke Kraamzorg. Setelah mencari rekomendasi dari teman-teman di Eindhoven, aku memutuskan untuk mendaftar di ZuidZorg Kraamzorg. Pertimbangannya karena agen kraamzorg ini adalah yang terbesar di Eindhoven dan memiliki banyak pengalaman dengan foreigner sehingga aku berharap mereka benar-benar bisa membantuku merawat bayiku di minggu pertama kelahirannya tanpa ada kendala bahasa atau budaya. Pada minggu ini aku juga harus membuat janji periksa USG prenatal screening di Diagnostiek voor U (DvU) untuk minggu ke-20 kehamilan.

Selama menunggu hingga minggu ke-20, ternyata aku mengalami beberapa masalah. Mual-muntah ku terlalu parah. Kadang aku mual sepanjang hari dan harus muntah sebanyak 5 kali sehari. Selain itu, aku mengeluarkan brown-discharge hampir setiap hari, saat aku beraktivitas. Padahal aktivitas yang kulakukan adalah aktivitas normal seperti belanja, mengantar Sena sekolah, memasak, membersihkan rumah dll. Karena hal-hal ini tidak normal maka dokter memberikanku obat pereda mual selama 2 bulan. Bidan juga merekomendasikanku untuk periksa ke gynaecoloog Β di RS MMC-Veldhoven untuk mengetahui penyebab keluarnya brown-discharge. Setelah menjalani beberapa kali kunjungan ke RS untuk melakukan pap-smear test dan infection test, dokter menyimpulkan tidak ada infeksi di dalam uterus, tetapi saluran cervix ku memang agak mudah berdarah. Hal ini kemungkinan karena banyak kelenjar darah yang terbentuk disana selama awal proses kehamilan. Aku hanya disarankan untuk mengurangi aktivitas saja. Ternyata setelah kehamilan memasuki bulan ke-4, brown-discharge dan mual-muntah yang kualami berhenti dengan sendirinya.

Tiba saatnya aku melakukan prenatal screening di DvU (minggu ke-21). Petugas USG memeriksa ukuran kepala, perut, kaki, tangan dan semua organ tubuh bayi. Kesimpulan dari tes ini mengatakan bahwa bayiku memiliki organel yang lengkap tapi ukurannya terlalu kecil. DDBY-2 ternyata memiliki jenis kelamin perempuan. Alhamdulillah. Petugas DvU merekomendasikan aku untuk melakukan double tes USG di RS MMC (minggu ke-22). Setelah pergi ke RS, ternyata hasilnya sama. Dokter gynaecoloog merekomendasikan aku untuk melakukan Advance USG di Academisch Ziekenhuis Maasctricht (minggu ke-23). Hasil advance USG menyatakan bahwa tidak ada anomali dan infeksi pada bayi, tetapi ukuran perutnya agak kecil. Jadi mereka akan memantau perkembangan bayiku lebih intensif. USG akan dilakukan 2 minggu lagi di RS MMC.

Sebenarnya kami sudah bersiap menerima berita bahwa ukuran bayiku kecil, karena dulu Sena dulu dinyatakan seperti itu. Tapi Alhamdulillah setelah pemeriksaan intensif, bayi Sena tumbuh dengan baik selama dalam kandungan dan lahir dengan ukuran normal (3.14 kg). Ada beberapa alasan kenapa ukuran janin kecil, seperti karena secara genetic ukuran orang tuanya tidak terlalu besar, kebiasaan ortu (meroko, minum-minuman keras), terdapat defect/infeksi didalam janin yang menyebabkan janin tidak mendapatkan nutrisi yang cukup, downsyndrome, dll. Meski dokter memperkirakan ukuran bayiku kecil karena secara genetic akupun tidak terlalu besar, tapi mereka tetap harus mengikuti prosedur beberapa tes USG untuk mengetahui adakah sebab yang lain. Akupun mengikuti saja prosedur itu, menurutku lebih baik berhati-hati dari pada nanti ada masalah di belakang yang tidak terdeteksi.

Demikian catatan tentang DDBY jilid 2, insyaAllah akan diteruskan lagi. Mohon doanya semoga DDBY-2 selalu sehat, lahir dengan selamat, tumbuh jadi anak yang baik, sehat dan sholehah. Amiiin. πŸ™‚

 

DDBY-2 tampak samping :)
DDBY-2 tampak sampingΒ 

Mengenalkan Islam pada anak

Mengenalkan Islam pada anak kecil menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua yang tinggal di negara non-muslim. Kadang susah, tapi bukan berarti tidak bisa. Banyak keluarga muslim Indonesia yang mempunyai putra-putri sholeh dan sholehah. Pintar mengaji, berkepribadian sopan dan baik, berpakaian rapi bahkan banyak yang memakai jilbab sejak kecil. Mereka pun cukup cerdas dan berprestasi di sekolah. Aku dan suami harus banyak belajar dari senior-senior ini yang InsyaAllah sudah terbukti metodenya dalam mendidik anak di Belanda.

Sholat Jumat di Masjid AL Fatih
Sholat Jumat di Masjid AL Fatih

Salah satu ihktiar kami mengenalkan Islam kepada Sena adalah membawanya ke masjid untuk sholat Jumat, jika ada hari libur yang bertepatan dengan hari Jumat. Seperti setiap hari Jumat selama liburan musim panas kemarin. Ternyata dia senang pergi ke masjid, tanpa janji-janji apapun. Dia duduk disamping ayahnya dan mengamati orang-orang yang sholat di masjid. Dia melihat perbedaan bentuk masjid (moskee) dan gereja (kerk). Aku menjelaskan, karena Sena muslim, sena pergi ke moskee untuk sholat. Sedangkan Fabian pergi ke Kerk untuk beribadah karena dia Kristen. Fabian adalah sahabat baik Sena di sekolah.

Alhamdulillah sejak seminggu lalu, Sena rutin ikut aku sholat Dhuhur dan Ashar. Meskipun kadang dia masih sholat sambil goyang-goyang, melongok kesana kemari, buka-buka mukenaku untuk melihat bagaimana posisi tanganku. Tapi aku sangat bangga dan menghargai usahanya untuk belajar sholat. Jadwal sholat yang lain masih terlalu sulit untuk dia ikuti. Subuh di Belanda jatuh di jam 4.30 pagi, Maghrib jam 8.30 malam dan Isya’ jam 11.20 malam. Dia mengikuti gerakan-gerakan sholat dan menirukan bacaan Al Fatihah dan surat-surat pendek yang kubacakan. Sengaja aku membaca surat-surat yang sudah dia hafal seperti Al Iklas, An Naas dan Al Falaq. Tapi itu semua karena dia sedang liburan sekolah. Sejak hari ini Sena masuk kembali ke sekolah. Semoga dia masih mau meneruskan kebiasaan ini.

Mengulang ulang halaman ini hingga lancar (Iqra 3)
Mengulang ulang halaman ini hingga lancar (Iqra 3)

Selain membiasakan sholat, Sena juga rutin mengaji. Meskipun ada TPA di kota kami, tapi Sena tidak bisa ikut karena jadwalnya yang kurang pas. Akhirnya Sena belajar sendiri di rumah, di ajar oleh ayahnya. Sena mengaji tiap sore hari selama kurang lebih 15 menit. Alhamdulillah sekarang Sena sudah berada di pertengahan Iqra 3. Setelah membaca Iqra, Sena menghafal surat pendek lalu tidur.

Kami membiasakan Sena memakai baju yang rapi jika pergi keluar rumah. Ternyata Sena suka memakai baju koko, bahkan untuk pergi ke sekolah. Hari Jumat adalah hari dimana dia memakai baju koko atau batik dari Indonesia. Dia sangat bangga dan menceritakan tentang bajunya kepada bu guru dan teman-teman di sekolah. Alhamdulillah, pihak sekolah pun tidak mempermasalahkan dia memakai baju yang sedikit “berbeda” dari teman-temannya.

Sena suka memakai baju koko
Sena suka memakai baju koko

Kami juga berusaha mengenalkan Sena pada Allah. Saat dia senang, kami ingatkan dia bahwa kesenangan itu berasal dari Allah dan Sena harus mengucapkan Alhamdulillah atau danke wel Allah. Saat dia pengen sesuatu, kami biasakan dia untuk berdoa meminta pada Allah. Terlebih jika dia sakit atau salah satu dari kami sakit. Dia akan segera berdoa: Ya Allah, Sena mau Bunda better. Danke wel Allah. πŸ™‚

Meski hingga saat ini hanya ini yang bisa kami lakukan untuk mengenalkan Sena pada Islam, insyaAllah kami akan konsisten. Sehingga nilai-nilai Islam akan tetap dipegang teguh oleh Sena hingga dewasa nanti, sebagai pegangan hidupnya. Dan menjadikan dia sebagai anak yang sholeh. Amiiin.

Membuat kue cubit dengan CakePop Maker

Minggu lalu aku membeli CakePop Maker di supermarket Lidl. Kebetulan dia memberi diskon 50% untuk Doughnut dan CakePop maker. Sayang sekali Doughnut makernya sudah habis dibeli orang.

Setiba di rumah Sena langsung merengek minta dibikinin CakePop. Aku sendiri belum pernah makan CakePop, jadi aku tidak tahu bagaimana cara membuatnya. Setelah menonton video pembuatan CakePop di youtube, aku berpikir ini kok sama mirip kue cubit ya. Akhirnya kuputuskan membuat kue cubit dengan CakePop Maker πŸ˜€

Alhamdulillah berhasil. Sena suka kuenya apalagi bentuknya mirip planet-planet kesukaan dia. Dia bilang; Bunda, ini bentuknya kayak Saturnus, karena punya ring. Yang itu Jupiter, karena punya storm πŸ˜€

Kue cubit ala CakePop maker
Kue cubit ala CakePop maker

Resepnya seperti ini:

2 cup tepung terigu

1.5 cup gula pasir

1 sdt baking powder

1 telur

5 sdm mentega cair

50 ml susu cair

sejumput garam

vanili

Cara membuat:

  • kocok telur dan gula hingga mengental, tambahkan garam, tepung terigu dan baking powder (diayak). Bergantian, tambahkan susu, mentega cair dan vanili.
  • Panaskan CakePop maker hingga lampu hijaunya menyala. Oleskan mentega cair ke setiap lobang. Tuang adonan ke dalam lobang-lobang CakePop (di isi penuh). Tutup dan masak kue sekitar 6 menit. Buka tutup CakePop maker dan angkat kue. Sajikan selagi hangat.

Summer vacation at home is FUN

Liburan musim panas kali ini kami tidak pergi kemana-mana. Jadi aku harus mencari ide kegiatan apa saja yang bisa di lakukan Sena selama liburan di rumah. Liburan musim panas di Belanda sekitar 6 minggu, cukup lama kan hehe πŸ˜€

Awalnya aku takut dia bosan dan sedih karena kami tidak pergi berlibur seperti teman-temannya. Tapi Alhamdulillah dia baik-baik saja dan tidak merasa bosan, hingga akhirnya liburan musim panas kali ini hampir berakhir.

bermain di private playground
bermain di private playground

Di awal liburan, cuaca Belanda kurang bagus. Kadang hujan gerimis turun sepanjang hari. Jadi kami hanya bermain di dalam rumah. Sena bermain Lego, Squla (educative games di laptop), mobil-mobilan, nonton tv, dan membaca buku. Aku mengatur tempat bermainnya sedemikian rupa seperti ruang bermain di sekolahnya. Jadi dia bermain Lego dan Duplo di Building corner, bermain Squla di Computer corner, membaca buku di Book corner, dan lain-lain. Dengan begitu dia bisa belajar disiplin seperti di sekolah, bermain di tempat masing-masing. Aku juga tidak terlalu repot saat membersihkan mainan-mainannya.

having fun with best friends
having fun with best friends

Saat cuaca makin membaik, kami pergi ke playground. Ada banyak 5 playground di kompleks rumah kami. Jadi kami bermain di satu playground hari ini, dan di playgound lain keesokan harinya. Sena senang sekali bermain pasir, seluncuran, memanjat dan berlari-larian. Tapi tidak banyak anak-anak yang bermain, sebagian besar dari mereka pergi berlibur bersama keluarganya. Memang orang Belanda sangat suka berlibur, terutama di musim panas. Mereka selalu mengambil jatah libur minimal 3 minggu selama musim panas.

Berkunjung ke rumah teman
Berkunjung ke rumah teman

Agar Sena tidak melupakan kemampuan berbahasa belandanya (karena kami memakai bahasa Indonesia selama di rumah), aku membawanya bermain ke rumah teman Sena atau mengundang temannya datang ke rumah. Jadi dia tetap bisa bersosialisasi sekalian mengusir rasa bosannya bermain sendiri di rumah. Kadang kami pergi ke perpustakaan, ke supermarket, berenang dan bermain di indoor playground besar di pusat kota. Hampir tiap hari Sabtu kami pergi menjenguk teman-temanku yang baru melahirkan. Sepertinya banyak sekali bayi lahir di musim panas πŸ˜€ Dari kecil Sena suka melihat bayi. Dia menganggap semua bayi-bayi itu adalah adiknya hehe πŸ˜€

Suamiku juga mengambil cuti selama 3 minggu. Ada dua kegiatan penting yang harus dia lakukan selama musim panas ini. Dia berencana mengecat sebagian tembok rumah kami dan mengajari Sena naik sepeda. Kami berharap dia sudah lancar naik sepeda saat liburan selesai. Pekerjaan mengecat ini cukup membuat stress karena cuaca Belanda yang berubah deng

Kraambezoek to baby Rana
Kraambezoek to baby Rana

an cepat. Kadang seharian matahari bersinar dengan terik, tiba-tiba di malam hari hujan turun dengan deras. Jadi suamiku harus mengecat temboknya berulang-ulang agar mendapat hasil cat yang rata. Alhamdulillah Sena bisa lumayan cepat belajar naik sepeda. Meski sempat takut dan mogok tidak mau belajar lagi setelah dia terjatuh dari sepeda yang baru dicopot roda tambahannya, akhirnya Sena sudah bisa naik sepeda roda dua. Total waktu yang diperlukan sekitar 2 minggu. Tiap hari dia belajar 2 kali, sekitar 15-20 menit. Sayang sekali sudah dua hari ini hujan turun tanpa henti, jadi Sena belum belajar naik sepeda lagi agar lebih lancar. Jadi kemungkinan kami belum berani membiarkan dia naik sepeda sendiri ke sekolah minggu depan. Biasanya lalu lintas di sekitar sekolah cukup padat di pagi hari, masih terlalu berbahaya untuk Sena.

Bersepeda roda dua
Bersepeda roda dua

Demikianlah kegiatan Sena selama liburan musim panas tahun 2015.

Tips berhemat di negeri orang

Memasak makanan sendiri sudah terkenal sebagai salah satu cara berhemat saat tinggal di negeri orang. Apalagi jika kita tinggal di negara dimana kita susah mencari makanan yang cocok (aman dan halal) untuk kita konsumsi. Tentu saja memasak makanan sendiri tidak perlu rasanya enak, yang penting bisa dimakan. Jangan khawatir, lama-lama kita bisa belajar dari kesalahan dan akhirnya bisa memasak dengan benar (dan rasanya menjadi enak).

Sudah 6.5 tahun lamanya aku dan keluarga tinggal di Belanda. Meski tidak sulit mencari rendang, soto, bakso dan lain-lain di sini, tapi kami lebih sering memasak sendiri makanan-makanan itu di rumah. Selain lebih murah (dan halal), menurutku rasanya lebih enak dari pada beli di restoran Indonesia disini. Karena rasa masakan-masakan itu kadang sudah di sesuaikan dengan lidah orang Eropa yang tidak tahan pedas dan lain-lain. Meski begitu, kadang aku juga beli masakan-masakan yang benar-benar tidak bisa saya masak, seperti pempek dan masakan padang.

Sebagai ibu rumah tangga, tentu aku ingin bisa berhemat dalam hal mengelola pengeluaran keluarga. Meski agak susah, bisa menghemat 1-2 euro seminggu saja aku sudah senang haha πŸ˜€ Selain memasak makanan sendiri, berikut beberapa hal yang sering kulakukan untuk berhemat:

1. Sebelum belanja di supermarket, cek diskon apa saja yang sedang berlaku di supermarket tersebut. Coba rencanakan menu keluarga berdasarkan bahan-bahan kebutuhan dapur yang sedang di diskon.

2. Tanam daun bawang, seledri dan mint sendiri di rumah. Caranya: beli daun bawang yang masih ada akarnya, potong bagian daunnya dan tancapkan akarnya ke tanah. Dalam 2 minggu, daun baru bisa di potong. Begitu juga dengan seledri dan mint.

3. Buat taoge sendiri. Caranya: ambil segenggam kacang hijau. Cuci dan rendam kacang hijau semalaman. Lalu di cuci dan ditiriskan. Simpan di wadah kering, tutup dengan plastik wrap, tusuk-tusuk plastik dengan garpu. Simpan di tempat gelap dan hangat. Cuci dan tiriskan kacang hijau 2x sehari. Dalam 3 hari taoge siap di konsumsi untuk soto atau rawon. Dalam 4 hari taoge cocok untuk di hidangkan di nasi pecel atau bakwan.

4. Di musim semi, coba tanam cabe, terong, buncis dan sayuran lain yang sering kita konsumsi. Tentu saja pilih yang mudah di tanam dan perawatannya tidak mahal.

6. Untuk cemilan anak, cobalah belajar memasak kue sendiri. Misalnya pancake, muffins, banana cake, cheese cake dll. Kue-kue ini adalah kesukaan anak-anak tapi harganya lumayan mahal. Jadi kalau bisa bikin sendiri kita bisa memuaskan anak dan perut pun jadi kenyang πŸ˜€

Tips dariku segitu saja, kalau ada tips lain nanti akan kutambahkan. Jika tertarik, silahkan mencoba. Semoga bermanfaat. πŸ™‚